Skip to content

Satu Dekade PMRI

22 November 2010

Robert Sembiring, Kees Hoogland, Maarten Dolk

A decade of PMRI in Indonesia mengisahkan satu cerita tentang proyek pembaharuan matematika di Indonesia. Selama sepuluh tahun terakhir, tim PMRI dengan dukungan dari sekelompok pendidik matematika Belanda menciptakan satu gambaran baru tentang pendidikan matematika di sekolah dasar. Bekerja sama dengan sekelompok guru, dosen, dan pemangku kepentingan di Kementerian Pendidikan Nasional yang tertarik dan telah diyakinkan, mereka menerapkan satu sistem workshop, mengembangkan dan mendiskusikan kegiatan pembelajaran, menerapkan design research di ruang kelas, mendesain materi pembelajaran, memproduksi standar untuk pendidikan matematika, serta mendidik Master dan Ph.D. Semua hal ini terjadi hampir serempak dan terhubung satu sama lain.

Buku ini menceritakan satu cerita tentang usaha keras dari banyak orang yang mendedikasikan diri mereka sepenuhnya untuk meningkatkan matematika Sekolah Dasar di Indonesia. Suatu kisah dari satu proyek kecil yang secara perlahan mendapat perhatian dari sejumlah universitas, LPTK, Kementerian Pendidikan Nasional, dan sekolah-sekolah yang jumlahnya terus bertambah. Sebuah kisah dari sekelompok matematikawan yang peduli dan ingin merubah matematika menjadi satu topik yang menarik untuk semua siswa serta bekerja keras untuk membuat PMRI menjadi suatu tujuan nasional.

Dari kepedulian menjadi aksi

Di penghujung abad ke-20, sekelompok matematikawan dan dosen matematika di Indonesia yang jumlahnya terus berkembang sangat dikhawatirkan oleh kualitas pendidikan matematika. Ini tidak berarti Indonesia tidak memiliki matematikawan hebat. Setiap tahunnya, sejumlah matematikawan Indonesia menerima Ph.D dari universitas seluruh dunia, banyak peserta olimpiade matematika Indonesia mendapat penghargaan. Fokusnya diarahkan ke arah siswa yang lebih lemah, kesenjangan antara siswa yang pintar dan kurang dalam matemtika sangatlah besar. Secara umum, siswa yang lebih lemah di Indonesia adalah siswa yang terlemah di seluruh dunia. Kebanyakan dari mereka takut terhadap matematika dan menjadi math-phobic. Mereka senang  saat sekolah berakhir dan tidak ada keharusan untuk mengerjakan matematika lagi. Sekelompok matematikawan dan dosen matematika ingin memperbaharui pendidikan matematika di Sekolah Dasar untuk dua alasan.

Pertama, mereka paham bahwa Indonesia memerlukan banyak sekali warga negara yang paham dan bisa bekerja dengan angka, sehingga negara bisa berkembang dan sejahtera. Seperti diindikasikan pada waktu itu, kebanyakan siswa dibuat takut oleh matematika dan menghindarinya. Orang tua juga takut matematika dan tidak berharap anak-anak mereka untuk sukses dalam matematika, tingkat harapan mereka sangatlah rendah. Secara keseluruhan di negara ini, tingkat kemampuan berhitung sangatlah rendah jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki keadaan yang sama. Kedua, mereka melihat ke depan bahwa pendidikan matematika yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan bernalar dan pemahaman siswa dapat menolong negara ini untuk menjadi suatu masyarakat yang demokratis. Di matematika, proses meyakinkan, memepertahankan, dan menjelaskan menolong untuk membuat kesepahaman. Setipa orang perlu membuktikan sudut pandangnya. Pendidikan matematika yang bagus, mereka berpendapat, akan membuat siswa menjadi warga negara yang dapat menyatakan ide atau perasaan dengan baik secara lisan maupun tulisan. Mereka meneliti pendidikan matematika di negara-negara yang berbeda dan memilih untuk mengembangkan satu bentuk Indonesia dari pendidikan matematika realistik. Mereka memutuskan untuk menciptakan satu versi lokal pendidikan matematika realistik yang secara spesifik diadaptasi ke budaya Indonesia karena sejak dari awal mereka sadar bahwa tidaklah cukup untuk mengimpor dan menyebarkan apa yang bekerja di negara lain. Sekelompok matematikawan paham bahwa suatu perubahan top-down (dari atas ke bawah) memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk berhasil. Menurut sudut pandang mereka, perubahan pendidikan matematika perlu dilakukan secara bottom-up (dari bawah ke atas) dan dimulai dari situasi Indonesia yang khusus. Hal ini mengarah pada pengembangan dan desain dari Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).

Pendekatan bottom-up menjadi satu dari prinsip yang mendasari PMRI. Prinsip lainnya adalah belajar melalui pemodelan, kepemilikan di tempat yang tepat, dan penciptaan bersama. Prinsip-prinsip ini, didiskusikan dan dikembangkan oleh tim PMRI saat membentuk perkembangannya dan kemudian saat merefleksikannya pada seluruh aktivitas yang sedang dilakukan. Itu semua dideskripsikan lebih detail di artikel Sembiring dan Hoogland (2008). Prinsip-prinsip ini mencerminkan filosofi edukatif dari tim PMRI.

Di penghujung tahun 90an, Dirjen Dikti membentuk tim PMRI yang terdiri dari matematikawan, dosen matematika, dan perwakilan dari universitas-unversitas untuk memimpin perubahan ini. Institut Pengembangan Matematika Realistik di Indonesia menjadi pusat dari pergerakan pendidikan matematika Indonesia sehingga tim PMRI dengan kompetensi komitmen dan dukungan institusi yang dibutuhkan memiliki kekuatan dan pengaruh untuk memperbaharui pendidikan matematika. Ini adalah awal dari satu perubahan yang terus tumbuh dan berkembang.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: