Skip to content

Etnomatematika

10 November 2013

ETNOMATEMATIKA:

KETIKA MATEMATIKA BERNAPAS DALAM BUDAYA

 

(Oleh: I Nengah Agus Suryanatha & Ratih Ayu Apsari)

 

APA ITU ETNOMATEMATIKA?

Etnomatematika merupakan matematika yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan tertentu (Yusuf dkk, 2010). Budaya yang dimaksud disini mengacu pada kumpulan norma atau aturan umum yang berlaku di masyarakat, kepercayaan, dan nilai yang diakui pada kelompok masyarakat yang berada pada suku atau kelompok bangsa yang sama (Hammond, 2000).

Image

Istilah etnomatematika berasal dari kata ethnomathematics, yang terbentuk dari kata ethno, mathema, dan tics (Yusuf dkk, 2010) Awalan ethno mengacu pada kelompok kebudayaan yang  dapat dikenali, seperti perkumpulan suku di suatu negara dan kelas-kelas profesi di masyarakat, termasuk pula bahasa dan kebiasaan mereka sehari-hari. Kemudian, mathema disini berarti menjelaskan, mengerti, dan mengelola hal-hal nyata secara spesifik dengan menghitung, mengukur, mengklasifikasi, mengurutkan, dan memodelkan suatu pola yang muncul pada suatu lingkungan. Akhiran tics mengandung arti seni dalam teknik.

Oleh karena tumbuh dan berkembang dari budaya, keberadaan etnomatematika seringkali tidak disadari oleh masyarakat penggunanya. Hal ini disebabkan, etnomatematika seringkali terlihat lebih “sederhana” dari bentuk forma matematika yang dijumpai di sekolah. Masyarakat daerah yang biasa menggunakan etnomatematika mungkin merasa tidak percaya diri dengan warisan nenek moyangnya, karena matematika dalam budaya ini, tidak dilengkapi definisi, teorema, dan rumus-rumus seperti yang biasa ditemui di matematika akademik.

 

CONTOH ETNOMATEMATIKA

Nenek-nenek kita di Bali mungkin tidak mengenal definisi lingkaran sebagai himpunan titik-titik yang berjarak sama. Mereka juga bisa jadi tidak tahu bagaimana membuat gambar lingkaran dengan menggunakan jangka seperti yang biasa kita lakukan. Mereka mungkin tidak tahu jumlah sudut dalam lingkaran sebesar 3600. Tapi dengan jelas mereka bisa membuat bentuk lingkaran dengan menggunakan peralatan sederhana, hanya dengan busung (janur/daun kelapa yang masih muda), semat (lidi tajam yang berguna untuk merekatkan bagian-bagian busung), dan pisau.

Bagaimana caranya?

Potong janur dalam ukuran yang sama. Pertemukan tengahnya kemudian semat ujung-ujungnya.

Ilustrasinya begini:

 

Image

 

 

Begitu pula dengan tradisi otonan (lihat penjelasan matematis yang lebih lengkap di: https://p4mriundiksha.wordpress.com/2013/10/18/masalah-matematika-dengan-konteks-lokal-1/ )

Konsep kelipatan persekutuan dengan sangat baik diterapkan dalam perhitungan otonan tersebut, dimana penanggalan kelahiran seseorang (menurut perhitungan wewaran dan pawukon) akan berulang setiap 210 hari sekali.

Belum lagi konsep modulo yang dapat kita lihat daam sistem pemberian nama di Bali. Anak pertama memiliki nama yang mengandung unsur Wayan/Putu, anak kedua Nengah/Made/Kadek, anak ketiga Nyoman/Komang, dan anak keempat Ketut. Apabila seseorang memiliki anak lebih dari empat, pemberian namanya akan berulang kembali dari satu, yaitu Wayan/Putu, dan seterusnya. Dengan kata lain, pemberian nama di Bali memiliki dasar modulo 5, yang hanya memiliki 4 orang anggota.

 

CONTOH LAINNYA

Semadiartha (2011) mengajukan konsep refleksi yang digunakan pada bangunan-bangunan di Bali.

Misalnya:

 

Image

Image

 

(dokumentasi Semadiartha, 2011)

 

Mertayasa (2011) juga memiliki pengamatan yang tak kalah menarik. Ia menyelidiki tentang bagaimana seorang penjual nasi sebenarnya mengenal konsep ke-simetris-an pada bangun datar, dimana ia mampu mentransformasi kertas minyak yang berbentuk persegi panjang, nejadi sebuah lingkaran yang memiliki bentuk melengkung dibagian atasnya, dengan menggunakan teknik melipat dan menggunting.

 

Image

 

(dokumentasi Mertayasa, 2011)

 

Sepertinya akan banyak etnomatematika yang membuat kita terkagum-kagum akan sifat universal matematika. Terlebih lagi di Indonesia, yang memiliki keragaman budaya dengan kearifan lokalnya masing-masing. Kemunculan etnomatematika dalam diskusi tentang ilmu matematika nampaknya akan menjadi sangat menarik. Di satu sisi memperkaya ilmu pengetahuan, di sisi lain melestarikan budaya. 🙂

 

 

 

Referensi:

Mertayasa, Dewa Made. Etnomatematika Pada Pedang Nasi dan Kaitannya dalam Pembelajaran Matematika. Makalah Seminar Matematika[*]. Program Pasca Sarjana Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha

Semadiartha, I Kadek Sembah. 2011. Etnomatematika Ukiran Bali dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Matematika. Makalah Seminar Matematika[*]. Program Pasca Sarjana Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha

Suryanatha, I Nengah Agus. 2011. Etnomatematika: Permainan Teka-Teki Wasakwakwalwa dalam Kebudayaan Hausa. Makalah Seminar Matematika[*]. Program Pasca Sarjana Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Ganesha

Hammond, Tracy. 2000. Ethnomathematics: Concept Definition and Research Perspectives. Thesis for Degree of Master of Arts, Columbia University. http://srlweb.cs.tamu.edu/srlng_media/content/objects/object-1234476000-b6fdd344454299ac478700e4deb6e040/2000HammondEthnoma thematics.pdf

Yusuf, Mohammed Waziri, dkk. 2010. Ethnomathematics (a Mathematical Game in Hausa Culture). International Journal of Mathematical Science Education Technomathematics Research Foundation.  http://www.tmrfindia.org/sutra/v3i16.pdf

 

[*] serangkaian mata kuliah seminar matematika untuk mahasiswa semester 3 program pasca sarjana Undiksha tahun 2011, dengan dosen pengampu Prof. Dr. I Gusti Putu Suharta, M.Si.

 

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: